Kisah  

Tiga Dekade Terpisah Rel Kereta, Sebuah Sketsa Mengantar Anak Itu Kembali ke Pelukan Ibu

KompasReal.com, Deru kereta di sebuah stasiun kecil di Cilacap mengubah hidup Zainuddin selamanya. Ia belum genap tujuh tahun ketika terpeleset dan masuk ke gerbong kereta yang hendak berangkat. Tangisnya kalah oleh suara mesin, pintu tertutup, dan dalam sekejap ia terpisah dari keluarga tanpa seorang pun menyadari.

Di rumah, sang ibu diliputi kepanikan. Ia menyusuri desa, bertanya ke tetangga, berharap anak bungsunya kembali. Hari demi hari berlalu tanpa kabar. Harapan sempat retak, tetapi tak pernah benar-benar padam. Selama 32 tahun, setiap suara kereta selalu menghidupkan kemungkinan yang sama: barangkali anak itu akan turun di salah satu peron.

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya, Zainuddin tumbuh tanpa asal-usul. Ia ditemukan warga dan dibesarkan di panti asuhan di Jakarta. Ia mengingat kereta, peron dingin, dan tangisan—namun wajah ibu dan rumah perlahan kabur. Hidup berjalan: sekolah, bekerja, menikah, memiliki anak. Satu pertanyaan tetap menggantung, dari mana ia berasal.

Suatu hari, ingatan itu memaksa keluar. Zainuddin menggambar denah stasiun yang terus menghantuinya sejak kecil—peron, tikungan rel, jalan kecil, dan rumah dekat lintasan. Ia mengunggah gambar sederhana itu ke media sosial dengan satu kalimat: “Saya hilang sejak kecil. Ada yang tahu stasiun ini?”

Respons datang di luar dugaan. Seorang netizen menulis bahwa denah itu mirip Stasiun Sitinggil, Cilacap. Komentar lain menyusul, menyebut dusun dan kisah seorang ibu yang kehilangan anak puluhan tahun lalu. Nama Cilacap terasa akrab, seolah memanggil memori yang lama terkunci.

Panggilan video mempertemukan Zainuddin dengan seorang perempuan tua berwajah letih. Begitu layar menyala, tangan sang ibu gemetar menyentuh layar. “Nak… Zainuddin… itu kamu?” Air mata lebih dulu jatuh. Tak banyak kata terucap—hanya keyakinan seorang ibu yang tak pernah salah mengenali darah dagingnya.

Baca Juga :  Muhammad bin al-Qasim: Penakluk Muda yang Dirindukan Hati Rakyat

Beberapa hari kemudian, pelukan yang tertunda 32 tahun akhirnya terjadi di depan rumah kecil di Cilacap. Tangis pecah, keluarga berkumpul, dan keraguan runtuh. Malam itu, Zainuddin tidur di rumah pertamanya dengan lega: ia tahu siapa dirinya dan ke mana ia pulang—semua berawal dari denah stasiun sederhana yang setia menuntunnya kembali.KR03