Makam Sahabat Nabi di Barus, Tapanuli Tengah — Jejak Awal Islam di Nusantara

Redaksi


 

KompasReal.com,Barus–sebuah kota tua di pesisir barat Sumatera Utara, sejak lama dikenal sebagai kawasan bersejarah yang menjadi pintu masuk berbagai bangsa ke Nusantara. Sebelum Masehi, Barus telah menjadi bandar niaga internasional yang menghubungkan pedagang dari Yunani, Persia, Arab, India, Tamil, hingga Tiongkok. Nama Barus—yang dalam berbagai literatur disebut Barousai, Fansur, atau Barus—tercatat dalam naskah Yunani, Siriah, Armenia, Arab, Melayu, hingga Jawa.

Salah satu bukti paling kuat tentang kejayaan dan kedatangan bangsa Arab pada masa awal Islam adalah keberadaan makam Islam kuno bertuliskan aksara Arab yang berusia sekitar abad ke-7 Masehi (40–50 Hijriah). Tingginya mencapai 1,5 meter, terbuat dari batu cadas besar, dan memuat tulisan Arab klasik. Melihat tarikh wafat dan konteks sejarah, para ahli menyimpulkan bahwa sebagian yang dimakamkan di Barus adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW atau tabi’in generasi sangat awal yang diutus untuk menyebarkan tauhid.

Tradisi lisan masyarakat Barus (turun-temurun) juga menguatkan keyakinan bahwa daerah ini adalah salah satu pintu masuk Islam pertama di Nusantara.


1. Makam Sahabat Nabi di Kompleks Papan Tinggi, Barus

Kompleks Papan Tinggi merupakan salah satu situs Islam tertua di Indonesia. Di sini terdapat makam Syekh Mahmud Fil Hadratul Maut, seorang ulama besar yang wafat sekitar 34–44 Hijriah.

Ciri-ciri nisan Syekh Mahmud

  • Tinggi sekitar 1,5 meter
  • Terbuat dari batu cadas besar
  • Aksara Arab kuno
  • Memuat kaligrafi ayat Al-Qur’an

Salah satu ukiran paling terkenal di nisannya berbunyi:

“Fa kullu syai’in hâlikun illâ wajhullah”
“Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat Allah.”

Menurut sejarawan Djamaluddin Batubara, dakwah Syekh Mahmud pada masa awal Islam di Barus masih menekankan ajaran tauhid, karena perintah syariat (seperti salat dan puasa) belum sepenuhnya diwajibkan kepada masyarakat yang baru mengenal Islam. Ayat yang dibawakan pun didominasi ayat-ayat Makkiyyah.

Baca Juga :  Jelajah Kuliner Nusantara yang Terlupakan: Menyingkap Warisan Rasa Tradisional

2. Makam Mahligai – Barus Induk, Tapanuli Tengah

Kompleks Makam Mahligai terletak di bukit Desa Dakka, pada area seluas sekitar 3 hektar. Di sini terdapat ratusan makam kuno, diperkirakan mencapai 215 makam, dengan nisan besar dan kecil bergaya Timur Tengah.

Tokoh Utama: Syekh Rukunuddin

Salah satu makam penting adalah makam Syekh Rukunuddin, yang wafat pada:

  • 13 Syafar 48 Hijriah
  • Usia 102 tahun, 2 bulan, 10 hari

Nisan beliau bertuliskan aksara Arab kuno dengan keterangan “Ha Min Hijratun Nabiy”, yang menandakan masa hidup sangat dekat dengan periode Nabi Muhammad SAW. Salah satu nisan asli beliau kini disimpan di Museum Purbakala Medan untuk keperluan riset.

Syekh Rukunuddin dikenal sebagai penerus dakwah Syekh Mahmud dalam menyebarkan ajaran Islam di pesisir Barus dan wilayah Tapanuli.


Barus: Jejak Peradaban Islam Paling Awal di Nusantara

Keberadaan dua kompleks makam tua ini memberi kesaksian kuat bahwa Islam sudah hadir di Nusantara pada masa sangat awal, bahkan pada generasi sahabat Nabi. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Barus bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan pusat peradaban yang menjadi gerbang awal penyebaran Islam di kepulauan Melayu.KR03